Orientasi Sosial, Penolakan hingga Bentuk Afeksi


    
Menjelang siang hari, setelah menyelesaikan jadwal belajar harian, saya mulai asyik menyelam di lautan informasi yang dengan
gampil-nya kita akses menggunakan smartphone. Hal yang dulu merupakan sebuah khayalan dan pemikiran belaka, dewasa ini berubah menjadi segenggam layar yang mempermudah kita dalam beraktivitas, termasuk membaca dan menulis.

     Dalam perjalanannya, fokus saya teralihkan dan mulai berkutat pada pertanyaan-pertanyaan yang saya anggap menyebalkan, risih. Seperti pertanyaan yang selalu dilemparkan seseorang saban saya bepergian, “Agiim, mau kemana? Udah rapih aja nih!” atau “Pagi-pagi gini, mau kemana?”. Malas rasanya menjawab tanda tanya mereka. Tentu bukan orang tua saya, karena sudah jelas saya akan dengan sukarela mengabari orang tua sebelum berangkat, melesat. Muak rasanya jika hal tersebut berulang kali terjadi. Atau di kasus manusia lain seperti bertanya kapan dan kemana akan berlibur, kerja apa dan gaji berapa, menikah kapan dan dengan siapa, seakan tak kuasa hidup rasanya jika tak intervensi terhadap urusan orang lain.

     Saya menolak, enggan untuk berdialog. Terkadang menjawab dengan nada yang sedikit sinis dan terganggu. Kenapa mereka tidak berhenti untuk menggali privasi orang lain? Huh! Awalnya, itulah sikap dan anggapan saya. Karena beberapa tahun ini, saya berada di luar kota bertemu banyak manusia, mengenal kultur anyar hingga perspektif manusia zaman kiwari. Memikirkan hal yang tak perlu dan menganggap mereka kampungan. Merasa bahwa diri ini lebih superior, cerdas dan canggih. Padahal itu semua salah, dan tak dapat dibenarkan.

     Kemudian, setelah berprasangka lebih baik dan berpikir lebih luas terhadap keadaan, saya mulai memahami dan memaklumi hal tersebut. Mungkin mereka memiliki perspektif sendiri tentang bagaimana cara mereka bersosialisasi. Bisa saja, pertanyaan mau kemana dan sudah darimana itu merupakan bentuk afeksi dan perhatian mereka terhadap diri. Teringat bahwa guru saya pernah mengingatkan untuk tidak dengan gampangnya bersikap suudzon dan menilai buruk orang lain. Karena seseorang tidak dapat dengan mudahnya dinilai dari jenis pakaian yang dimiliki, ataupun dari perkataannya di masa kini.

     Siapa tau, kita yang memandangnya dengan keburukan, lain hal dengan Tuhan yang memandangnya dengan kebaikan. Siapa tau di balik pertanyaan itu, mereka berdo’a agar kita selamat di jalan, atau berharap untuk tetap diberi kesehatan agar bisa tetap bekerja, bukan? Penerimaan terhadap kultur tersebut saya terima setelah akhirnya pandangan saya berubah.

     Membahas orientasi berpikir perihal kasus yang baru saja dibicarakan. Adalah saya, dengan pola pikir individualis saat itu, menganggap diri ini independen, ambisius terhadap pencapaian personal, cenderung menghargai kesuksesan pribadi ketimbang kelompok. Berlainan dengan pola pikir masyarakat yang kolektif, terkait dan terhubung dengan orang-orang. Sehingga menjadi hal yang wajar jika sesama warga saling bertukar kabar dan peduli sekitar. Maka waktu itu, ‘profil kognitif’ saya lebih dekat ke barat seperti orang Amerika dibandingkan orang timur seperti Jepang dan Indonesia. Cara berbeda melihat dunia ini bisa terbentuk karena pengaruh literatur, sosial kultur dan globalisasi. Sehingga tak mengejutkan jika hal tersebut telah terinternalisasi dan terbentuk dalam diri.

     Hemat saya, pola pikir apapun itu, mempunyai kelebihan dan kekurangannya tersendiri. Tak terkecuali konsep “individualisme” yang mandiri dan menghendaki kebebasan, tetapi egois dan menganggap diri sendiri lebih penting dari yang lain. Dan konsep “kolektivisme” yang saling dan berhubungan dengan orang sekeliling tetapi terkadang, dipenuhi rasa penasaran dan selalu campur tangan terhadap problem manusia lain.

     Kendati demikian, pertanyaan-pertanyaan di atas tak lagi saya entaskan, bukan intervensi yang sepenuhnya menyebabkan gangguan dan ketidaknyamanan. Karena bisa jadi itu semua merupakan jelmaan dari kekhawatiran dan kasih sayang. Who knows?

Komentar

Postingan Populer