Tentang Buku #1: The Magic Library - Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken




“Sebuah buku adalah dunia ajaib penuh simbol yang menghidupkan kembali si mati dan memberikan hadiah kehidupan yang kekal kepada yang hidup. Sungguh tak dapat dibayangkan, fantastis dan ajaib bahwa kedua puluh enam huruf dalam alfabet kita bisa dipadukan sedemikian rupa sehingga bisa memenuhi rak raksasa dengan buku-buku dan membawa kita ke sebuah dunia yang tak pernah berujung. Dunia yang selalu bertumbuh dan bertumbuh, selama masih ada manusia di muka bumi ini.” - Jostein Gaarder

__

 

Jostein Gaarder, nama dari seorang intelektual yang mungkin tak asing lagi di telinga mereka yang pernah membaca buku bertajuk Dunia Sophie. Ya! Buku yang memapah pembacanya untuk menjelajahi rumitnya dunia filsafat melalui jalan alternatif yang dikemas sedemikian renyah dan mudah untuk dipetik. Namun sekarang, kita tidak sedang akan membahas buku tersebut. Karena dewasa ini, Jostein Gaarder bersama dengan Klaus Hagerup telah melahirkan karya anyar yang berbau misteri, petualangan dan konspirasi. Mereka menyebutnya The Magic Library.

Berbicara mengenai konspirasi, tentu tak akan luput dari intervensi sebuah imaginasi. Karena keterbatasan informasi yang bisa digali, maka tak sedikit dari mereka yang mencoba untuk berteori. Bahkan tak menutup kemungkinan jika dalam diri setiap anak sekalipun, terjadi rangsangan imajinatif yang melibatkan kemampuan berpikir mereka dalam memecahkan segumpal masalah. Hal tersebut mungkin dapat terjadi jika mereka memiliki imajinasi yang cukup liar dalam perjalanannya, bukan? Lalu, adakah anak-anak seperti itu? Dalam buku ini, penulis menghadirkan dua orang anak berumur belasan tahun yang asik berkutat dalam dunia tulis-menulis. Dalam buku ini, kita akan menyaksikan peristiwa-peristiwa yang baru dan segar. Dalam buku ini, kita akan menyelam mencari kebenaran.

Inilah kisah Nils dan Berit, dua saudara sepupu yang secara intens berkomunikasi di kejauhan dengan bukan melalui udara seperti saat ini, namun melalui medium yang mereka sebut sebagai buku-surat. Karena di tahun itu, tak banyak manusia yang memiliki ponsel pintar, sehingga tak heran jika media untuk berkomunikasi saat itu di dominasi oleh surat. Namun Nils dan Berit tidak menggunakan surat secara konvensional untuk bertukar kabar seperti yang umumnya orang-orang gunakan. Mereka lebih memilih sebuah buku catatan atau buku diari yang di dalamnya mereka tulisi dan nantinya saling mereka kirimkan. Itulah buku-surat.

Seiring berjalannya waktu, beberapa perjalanan telah tertulis dalam buku-surat. Mereka perlahan mulai menyadari bahwa ada keanehan di antara mereka. Nils dan Berit mengamini bahwa sebenarnya mereka sedang diawasi oleh seorang wanita tua yang unik dan eksentrik. Benar saja, bersama dengan komplotannya, wanita tersebut memiliki suatu niatan atas diri Nils dan Berit terkait perpustakaan dan dunia perbukuan. Dengan itu, mereka (Nils dan Berit) pun bertekad untuk mencari tahu kebenaran apa yang sedang menunggu mereka di kemudian waktu. Sampai akhirnya, hari-hari Nils dan Berit pun menjelma menjadi hari yang penuh dengan misteri, konspirasi dan teka-teki.

Buku ini terbagi menjadi dua bab dengan keseluruhan halaman yang berjumlah 284 halaman. Bab pertama bercerita tentang kegiatan mereka dalam menulisi buku-surat dan mengumpulkan potongan puzzle. Sedang bab kedua yang bertajuk perpustakaan berbicara perihal pergerakan mereka dalam memecahkan misteri serta teka-teki yang mengelilinginya selama ini. Selebihnya, penulis mengizinkan kita untuk berkhayal seluas mungkin guna mengimajinasikan keseluruhan cerita tersebut. Karena benar pikirku, saat membaca, segala sesuatu akan terbang bermain-main dalam pikiran kita. Sebab buku bukan hanya tentang huruf-huruf belaka, namun juga tentang apa yang kita bayangkan saat membacanya.

Kemudian sejujurnya, tak banyak potongan cerita yang akan aku bagi dalam tulisan ini. Sehingga tak heran jika diantara kalian akan ada yang bertanya, Siapa sebenarnya wanita tua itu? Apa niatan yang mereka maksud? Bisakah mereka menemukan perpustakaan tersebut? Ngomong-ngomong, akankah mereka membongkar misteri dan teka-teki yang mereka hadapi? Atau bahkan seperti, Apa ada diantara mereka yang kan mati?

Yah, kunci terbaik untuk mengetahuinya adalah dengan membaca buku itu sendiri. Sebab jelas, karenanya, kita akan bisa memuaskan dahaga penasaran akan tanda tanya yang bergelimang dengan jawaban-jawaban yang nantinya bakal disuguhkan dalam perjalanan. So, if you’re curious about, then just read it! Read it and find the truth! Karena secara keseluruhan, buku ini tidak hanya berbicara tentang kisah dua anak kecil yang mencari eksistensi perpustakaan ajaib dan membongkar niatan seorang wanita eksentrik, namun juga membahas tentang Klasifikasi Lima Desimal Dewey, korespondensi, teori sastra, teori fiksi, teori menulis, puisi, sejarah buku, drama, humor, film perpustakaan dan penerbitan.

_

 

Ada yang menarik dari buku ini, penulis dengan sadar menyajikan suatu petualangan dengan cara yang baru dan berbeda dari kebanyakan. Buku-surat? Yeah, that’s it! Bicara tentang hal tersebut, manusia tempo dulu mesti menulis surat untuk berkomunikasi. Sehingga perlu merelakan waktu lebih agar mereka mampu kembali memberi kabar dan menerima jawaban. Berbeda dengan mereka, kita, manusia zaman kiwari dapat dengan mudahnya memberi kabar kepada seseorang, baik itu keluarga, teman ataupun pacar dalam waktu yang relatif singkat__sebentar. Cukup menyalakan data, hubungkan ponsel dengan arus internet, maka kita sudah dapat berselancar dalam derasnya dunia maya. Berkomunikasi lewat udara, tanpa mengenal jarak dan waktu. Sungguh kemajuan yang signifikan dalam sejarah manusia, bukan?

Yah, meski sebenarnya ada keinginan untuk berdialog melalui surat. Mencoba mengalami cara dulu mereka berkoneksi dalam jarak yang terlampau jauh hanya dengan menggunakan pena dan kertas. Menumpuk rindu yang disuguhkan waktu. Sampai harus membayangkan wajah seseorang dan memikirkan kata-kata yang bagus dahulu sebelum kumemulai untuk menulis, sudah membikin diriku antusias karenanya. Namun sayang, aku tak memiliki sahabat pena. Setidaknya untuk saat ini akan begitu. So, i cant do it right now. Unfortunately :)

Kemudian jika memikirkan hal yang satu ini, aku jadi tak tahan untuk membahasnya. Seperti yang tertulis di bagian pembuka, penulis pernah berkata jika kedua puluh enam huruf dalam alfabet dapat dipadukan sedemikian rupa sehingga mampu melahirkan karya-karya berwujud tulisan__buku yang nantinya akan hadir dalam materi yang diajarkan di kelas, memenuhi rak-rak besar di perpustakaan sekolah, menemani seorang lelaki dalam belajar bagaimana cara memahami wanita, atau bahkan menjadi dongeng bagi anak-anak kecil sebelum mereka pergi tertidur pulas. Sungguh ajaib dan fantastis, ya! Mungkin bisa saja, suatu saat nanti tulisanmu atau mungkin tulisanku, bisa menjadi bagian dari karya berwujud buku yang berada di pelukan orang lain saat dengan tak sengajanya ia tertidur, atau mungkin berada di deretan list buku yang ingin seseorang beli dan miliki. It isn’t impossible, right!?

Bagaimanapun, orang yang menciptakan alfabet kita ini merupakan seseorang yang ajaib. Boleh kubilang begitu? Karena lihatlah! Lihat seberapa besar kemajuan yang telah terjadi karenanya? Lihat seberapa banyak manusia berkembang karenanya? Just look at those! Membayangkannya saja sudah cukup membuatku merinding terkesan. Incredible!

Di akhir, aku ingin menutup tulisan kali ini dengan mengutip perkataan Jostein Gaarder dalam buku The Magic Library yang tak kalah membuatku terkesan dengan perkataannya di atas. Itu adalah:

“Siapa yang bisa menemukan buku yang tepat, akan berada di tengah-tengah teman terbaik. Disana kita akan berbaur dengan karakter yang paling pintar, paling intelek, dan paling luhur; di sana kebanggaan serta keluhuran manusia bersemayam.”

Komentar

Postingan Populer