Aurora #1: Masih Ingatkah Kamu?
Aurora,
Masih ingatkah kamu dengan hari itu?
Hari dimana kamu, dengan idzhar berkata jika aku nampak seperti lelaki malang yang penuh luka dan lebam sana-sini. Lelaki yang merekam masa-rasa dengan tulisan yang kamu sebut karya. Padahal sejujurnya, tulisan itu sendiri merupakan bentuk meditasiku dari semrawutnya cerita nyata.
Lalu, salahkah aku jika tetap menulis waktu, luka-bahagia yang kau sebut karya? Meskipun itu tentangmu, akankah kamu memperbolehkannya? Akankah kamu membaca dan menerimanya?Namun bagaimana jika tidak? Pada siapa lagi aku kan berkata? Pada siapa lagi aku harus berbagi tawa? Pada siapa lagi aku harus mengirim sepotong karya?
Aurora,
Masih ingatkah kamu dengan hari itu?
Hari dimana kamu, dengan percaya diri berkata “Jika kamu membutuhkan ruang, jangan sungkan untuk berdialog dan ceritakanlah masalahmu padaku”. Walaupun sebenarnya aku tak tahu apakah kamu benar berucap tulus atau hanya sekedar mengiklankan diri belaka, agar aku anggap kamu baik, Aurora? Entahlah, aku pun tak sanggup untuk memikirkannya. Apapun itu, kebenarannya, aku masih tetap menganggapmu manusia baik dan berharga.
Lalu bagaimana jika; salahkah aku jika merindu tanpa seizinmu? Pada pinarnya tawamu? Pada hidupnya matamu? Pada bangirnya hidungmu? Pada ruang mana aku harus bercerita selainmu, Ra? Bukankah menggelikan jika jarak keras menampar nyata? Bukankah kamu ingin menjadi ruang bagiku? Namun jika itu tentangmu, bagaimana aku bisa cukup berani untuk jujur dan mengaku, jika aku rindu?
Aurora,
Masih ingatkah kamu dengan hari itu?
Hari dimana kamu, entah karena apa kamu berkata jika aku adalah manusia yang menarik. Menganggap bahwa orang akan selalu betah berada di dekatku karena afirmasi positif yang kubagi. Tapi pernahkah kamu bertanya, apakah aku lelah? Pernahkah kamu berpikir, jika sebenarnya aku pun membutuhkan energi_seseorang untuk menetralisir impuls negatif dari hiruk pikuk yang mereka bawa.
Lalu, mengapa kamu pergi-menjauh? Bukankah kita telah sama-sama hafal jika kita benci jarak dan perpisahan? Orang menarik seperti apa aku, jika akhirnya malah membuatmu berubah ditelan waktu? Biasanya, kamulah seorang yang berhasil membuatku sedikit melupa tentang kejam dan sakitnya tipu daya cinta, namun sekarang, siapa?
Jawab aku Aurora! Siapa yang salah?
Aku atau kamu?
Jawab aku Auora! Siapa yang jahat?
Aku atau kamu?
Jawab aku Aurora! Siapa yang kejam?
Aku atau kamu?
Jawab aku Aurora,
Aku mohon….
Kamu kemana?

Komentar