Aurora #2: Minggu Bersama Filsafat



Ra, aku ingin memberimu kabar jika sekali lagi, hari ini aku mampu bangun di pagi hari. Sebuah kemenangan kecil yang aku raih setelah berjuang melawan rasa malas dan kantuk yang mengajakku untuk tetap terlelap di atas ranjang. Yah, walaupun sebenarnya semalam aku tetap terjaga sampai malam terakhir di tahun 2022 berakhir. Tapi hal tersebut tak menuntutku untuk malah meruntuhkan beberapa jadwal aktivitas yang sudah kusiapkan sebelumnya.

Seperti Oasis yang dalam lagunya mengatakan, “I start a revolution from my bed”, aku pun berhasil memulai hari baruku dengan sebuah revolusi kecil di kamar tidurku, Ra. Meski hanya sekedar bangun pagi, merapikan kasur, bilas muka dan gosok gigi, aku rasa itu akan menjadi habit yang baik jika menerus dipertahankan, bukan?

Awalnya kukira hari ini langit akan cerah ceria, burung-burung akan riang bernyanyi dan cucianku akan kering terjemur. Namun siapa sangka jika hujan terus turun sedari pagi, sampai saat aku memulai tulisan ini, Ra. Dingin yang merambat, datang menusuk hingga ke jari jemari. Sampai-sampai aku sempat berpikir untuk menarik selimutku kembali. Sialan emang haha. Karena bagiku dingin mesti di lawan, segera kukenakan jaket vintage-ku, dan kuminum secangkir teh hangat yang sebelumnya t'lah kakak-ku siapkan. Terima kasih kak, hihi.

Lalu asal kamu tau Ra, ada hal yang membuatku kagum dan tertarik. Pagi itu adik kecilku tengah asyik memberi makan kucing liar yang biasa datang ke rumah! Begitu menggemaskan. Hal baik yang mungkin dia tiru ketika melihat orang-orang rumah melakukan hal yang serupa. Tanpa adanya suruhan, ia nampak melakukannya berdasarkan keinginan. Sungguh bagiku, dalam perspektif lebay, pemandangan tersebut cukup menghangatkan bagi paginya seorang lelaki yang semestinya dingin dan memilukan.

_

Setelah sarapan, entah kenapa Ra, tetiba aku kepikiran untuk membaca ulang bagian awal dari buku Dunia Sophie. Bambang Sugiharto, seorang guru besar filsafat di Unpar dan ITB mengatakan jika “…Filsafat mengasah kepekaan kita atas inti persoalan, yakni kepekaan atas mana hal pokok, mana hal sepele; mana yang layak dibela, mana yang bisa dibiarkan saja.” Pernyataan tersebut kembali menyadarkanku untuk semestinya berpikir lebih arif dalam menyelesaikan perkara-perkara yang sedang dan akan dihadapi, membantu melihat hal-hal yang lebih pokok dan menjaga diri agar tak terjebak dalam kepicikan perkara yang sekiranya tidak penting.

Beberapa waktu ke belakang, tak jarang aku menemukan orang-orang yang mengajakku untuk berbincang mengenai satu atau dua hal, Ra. Setelah lama mengalir, akhirnya seperti apa? Perbincangan tersebut menjadi perdebatan yang tak kunjung selesai-selesai. Kenapa? Mungkin saja karena keteguhan prinsip yang masing-masing diri kita pegang, atau sikap keras kepala yang tak kunjung padam untuk bisa legowo menerima argumen yang orang lain sampaikan. Seakan, sisi yang satu menginginkan sisi yang lain mengamini pendapat mereka. Bak persepsinya lah yang paling benar. Padahal yang kupikir, boleh kita memiliki perbedaan pandangan, argumen dan keyakinan, namun tidak sampai harus mengacaukan hubungan dan kemerdekaan seseorang untuk berpikir dan berekspresi. Di negara demokrasi, aku akan membelamu untuk bersuara dan berpendapat. Namun hal tersebut tak mengartikan jika aku kan mengamini argumen yang kamu buat.

Aku menyesali perdebatan kusir tersebut, Ra. Karena saat itu aku kurang pandai untuk berpikir lebih jernih, dan berprilaku lebih bijak dalam memutuskan apakah dialog yang mungkin terjadi, benar dibutuhkan atau tidak sama sekali. Aku yang saat itu, masih belum arif untuk memilah mana perkara yang penting dan mana perkara yang sepele. Makanya aku kembali menyelami dunia filsafat, Ra. Karena kupikir, filsafat bukan hanya sebagai parafernalia untuk dekorasi pikiran dan gaya bicara saja. Namun kuyakini, jika filsafat mampu membantuku mengolah pikiran agar pemahaman dan wawasanku persisten, terus berkembang, menjadi lebih kaya dan lebih luas seiring berjalannya waktu. Dr. Fahrudin Faiz, dosen UIN Sunan Kalijaga, pernah bilang jika filsafat melatih kita untuk berpikir benar dan cinta kebijaksanaan. Maka dengannya, aku berharap jika pikiran dan hati bisa menjadi lebih arif dan jernih, terkhusus ketika menghadapi perbedaan dan kompleksitas kehidupan yang sedemikian eksis di zaman kiwari.

Namun perlu diketahui Ra, aku memiliki prinsip yang kupegang selama belajar mengenai filsafat. Sehingga nantinya, tidak ada kerancuan-kerancuan berpikir yang akan mengganggu keimananku sebagai seorang muslim. Begitu pun dalam memilah buku, tak jarang jika aku mencari buku yang sekiranya baik dan aman untuk kubaca. Kehatian-hatian dan sikap skeptis sering kali kulakukan selama perjalananku menyusuri kata-kata dalam setiap buku yang kubaca. Hal ini kulakukan agar pemikiran dan keimananku tetap terjaga. Kamu ingat kata-kata yang pernah diucapkan Buya Hamka tentang buku, Ra? Ya, perkataan tersebut selalu terbenak dalam pikiran ketika aku bermaksud untuk membeli dan membaca sebuah buku. Kata-kata tersebut akan kujadikan sebagai penutup di tulisanku kali ini. Semoga kita selalu bisa belajar, berevaluasi dan mampu menemukan buku-buku yang baik ya, Ra.

 

Membaca buku-buku yang baik berarti memberi makanan rohani yang baik

Komentar

Postingan Populer