Dialog Puisi di Ujung Malam



Hei Puan! Sudah kulakoni ajakanmu barusan, bahwa:

Malam ini langit benar membosankan.

Sebab sedari pagi ia murung, mendung.

Apakah itu karena luka atau duka nestapa? Entahlah, aku pun cukup bingung.


Namun pagi tadi, kenyataan benar menamparku.

Berita yang mengalir cepat di udara, berseliweran di sosial media.

Indonesia sedang berduka, Puan!

Warga dunia menonton, berbela sungkawa.


Lalu tentangku, geli sekali melihatmu memanggilku pangeran kesepian.

Terasa seolah aku menjelma manusia paling malang di dunia, hahaha!

Namun sejauh ini, aku merasa baik, Puan!

Mungkin karena seorang perempuan, yang sedari kemarin membungkus kata dalam karya, yang baru ini membikinku cukup ceria.


Tentang kamu, bagaimana?

Walaupun bulan sedang terhalang kabut.

Aku harap, itu tak membuat harimu gelap dan penuh kemelut.

Bukankah temaram itu masih dengan percaya dirinya berderang di angkasa.

Maka, jangan sekali-kali kau berpikir untuk merawat lara ya.

Cukup lewati dan pergi berbahagia!

Komentar

Postingan Populer